Selasa, 06 Juni 2023 By dr. Kristo

Mumps/gondong/gondongan adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus mumps, suatu jenis paramyxovirus yang merupakan bagian dari keluarga Rubulavirus. Penyakit parotitis dan orchitis sudah ada dan dideskripsikan oleh Hippocrates pada abad ke-5 SM. Virus mumps sendiri ditemukan pada tahun 1935. Gondong adalah salah satu penyebab paling umum dari meningitis aseptik dan gangguan pendengaran sensorineural pada anak-anak sampai diperkenalkan vaksin pada tahun 1967. Pada tahun 1971, vaksin gondong dilisensikan di Amerika Serikat sebagai vaksin campak, gondong, dan rubella (MMR) gabungan. Pada tahun 2005, vaksin kombinasi campak, gondong, rubella, dan varicella (MMRV) dilisensikan.

Program vaksinasi 2 dosis berhasil menyebabkan penurunan lebih dari 99% jumlah kasus gondong setiap tahunnya. Namun, mulai tahun 2006, telah terjadi peningkatan kasus dan wabah gondong, bahkan pada orang yang sudah divaksinasi lengkap.

Virus Mumps/Gondong

Virus mumps adalah sejenis paramyxovirus yang memiliki genom RNA beruntai tunggal. Virus dapat dikultur dalam berbagai jaringan manusia dan monyet dan dalam telur berembrio. Pada penderita gondong, virus mumps bisa ditemukan di air liur, cairan serebrospinal, urin, darah, air mani, ASI, dan jaringan lainnya.

Virus gondong dapat dimatikan oleh formalin, eter, kloroform, panas, dan sinar ultraviolet.

Patogenesis

Virus ini ditularkan lewat udara (airborne) melalui transmisi droplet dari saluran pernapasan. Virus lalu bereplikasi di nasofaring dan kelenjar getah bening lokal. Selama virus masuk ke pembuluh darah (viremia), virus menyebar ke beberapa jaringan, termasuk meninges (membran otak), kelenjar ludah, pankreas, testis, dan ovarium. Peradangan pada jaringan yang terinfeksi menyebabkan gejala khas parotitis dan komplikasi lain seperti orkitis dan meningitis aseptik.

Gambaran Klinis

Masa inkubasi gondong biasanya antara 16-18 hari tetapi bisa berkisar antara 12-25 hari. Gejala prodromal tidak spesifik dan bisa meliputi mialgia, anoreksia, malaise, sakit kepala, dan demam ringan.

Gondong biasanya muncul sebagai parotitis (pembengkakan kelenjar air liur parotid) atau pembengkakan kelenjar ludah lainnya yang berlangsung sekitar 5 hari. Parotitis dapat unilateral atau bilateral, dan bisa menyerang lebih dari satu kelenjar air liur bersamaan. Parotitis awalnya bisa dirasakan pasien sebagai sakit telinga dan nyeri tekan pada rahang. Setelah itu, pasien mulai merasakan nyeri dan bengkak pada leher dan rahangnya (parotitis) baik uni maupun bilateral dalam beberapa minggu sampai bulan. Infeksi gondong juga bisa disertai gejala pernapasan nonspesifik. Sebelum pengenalan vaksin mumps, sekitar 15% sampai 24% infeksi tidak menunjukkan gejala. Frekuensi infeksi tanpa gejala pada orang yang divaksinasi tidak diketahui, tetapi gondong umumnya memiliki gejala lebih ringan pada orang yang divaksinasi.

Virus mumps adalah satu-satunya agen infeksius yang diketahui menyebabkan parotitis epidemika. Kasus infeksi ulang gondong lebih dari satu kali juga pernah dilaporkan.

Komplikasi

Komplikasi gondong terjadi dengan/tanpa parotitis atau pembengkakan kelenjar ludah lainnya dan umumnya meliputi orkitis, ooforitis, mastitis, pankreatitis, gangguan pendengaran, meningitis, dan ensefalitis. Nefritis, miokarditis dan gejala sisa lainnya, termasuk kelumpuhan, kejang, kelumpuhan saraf kranial, dan hidrosefalus, pada pasien gondong juga pernah dilaporkan tetapi jarang terjadi. Komplikasi yang terkait dengan infeksi gondong biasanya lebih sering terjadi pada orang dewasa daripada anak-anak. Orang yang divaksinasi lebih kecil kemungkinannya mengalami komplikasi daripada orang yang tidak divaksinasi.

Orkitis adalah komplikasi yang paling umum pada pria pasca pubertas, terjadi pada sekitar 30% pria yang tidak divaksinasi dan 6% yang divaksinasi. Dengan orkitis terkait gondong, biasanya terjadi pembengkakan testis yang tiba-tiba, nyeri tekan, mual, muntah, dan demam. Nyeri dan bengkak dapat mereda dalam 1 minggu, tetapi nyeri tekan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Sekitar setengah dari pasien dengan orkitis gondong mengalami atrofi testis pada testis yang terkena. Meskipun ada risiko teoritis untuk kemandulan berdasarkan patogenesis penyakit, tidak ada penelitian yang menunjukkan risiko kemandulan pada pria dengan orkitis gondong dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita orkitis gondong.

Pada era pravaksin, ooforitis dan mastitis telah dilaporkan masing-masing pada 7% dan 30% wanita pasca pubertas dengan gondong. Di antara wanita yang divaksinasi, ooforitis dan mastitis dilaporkan pada 1% atau kurang dari pasien gondong. Ooforitis dapat menyerupai radang usus buntu.

Di antara pasien yang tidak divaksinasi, meningitis aseptik klinis terjadi hingga 10%, pankreatitis hingga 4%, dan gangguan pendengaran sensorineural hingga 4%. Meningitis biasanya ringan. Kehilangan pendengaran biasanya bersifat sementara tetapi bisa juga permanen.

Pada era pascavaksin, di antara semua orang yang terinfeksi gondong, angka kejadian meningitis, ensefalitis, pankreatitis, dan gangguan pendengaran (sementara atau permanen) yang dilaporkan adalah 1% atau kurang.

Gejala sisa permanen dan kematian sangat jarang terjadi baik pada pasien yang divaksinasi maupun yang tidak divaksinasi.

Uji Laboratorium

Diagnosis gondong biasanya dapat ditegakkan dari gambaran klinis, khususnya dengan adanya parotitis. Namun, jika diduga ada gondong, pemeriksaan laboratorium sebaiknya dilakukan. Penyebab lain dari parotitis sebagai diagnosis banding termasuk virus Epstein-Barr, cytomegalovirus, virus parainfluenza tipe 1 dan 3, virus influenza A (paling sering H3N2), enterovirus, virus choriomeningitis limfositik, human immunodeficiency virus (HIV/AIDS), dan mycobacterium non-tuberkulosis.

Virus mumps dapat dideteksi melalui uji reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) atau kultur virus dari spesimen bukal/oral atau urin. RT-PCR atau kultur virus negatif pada orang dengan gejala gondong tidak mengesampingkan gondong sebagai diagnosis.

Infeksi gondong akut dapat dideteksi dengan adanya IgM anti-mumps di dalam serum darah. Namun, tes ini memiliki akurasi rendah sebab kadang kala hasil bisa false-negative. Hasil juga bisa false-positive bila sebelumnya pasien telah divaksin. IgM anti-mumps yang negatif pada seseorang dengan gejala gondong tidak mengesampingkan gondong sebagai diagnosis. Karena sering ditemukan kasus false-negative, maka hasil harus ditafsirkan dengan hati-hati. Pengumpulan serum sebaiknya dilakukan antara 3-10 hari setelah onset parotitis untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Infeksi gondong akut juga dapat dideteksi dengan peningkatan 4x lipat titer antibodi IgG menggunakan serum yang diambil sejak mulai fase akut sampai pemulihan, juga dikenal sebagai serokonversi IgG. Namun pemeriksaan ini juga memiliki akurasi rendah dan seringkali hasil menunjukkn false-positive atau false-negative baik pada orang yang belum maupun sudah divaksinasi.

Pengujian laboratorium juga dapat mengkonfirmasi keberadaan virus vaksin gondong pada individu yang baru saja divaksinasi dan berpotensi terpapar.

Epidemiologi

Angka Kejadian

Penyakit gondong terjadi di seluruh dunia, dengan rata-rata 500.000 kasus dilaporkan setiap tahunnya.

Inang

Gondong adalah penyakit manusia. Tidak ada reservoir hewan atau serangga.

Penularan

Gondong menyebar lewat udara (airborne) melalui sekresi saluran pernapasan dan air liur.

Pola Musiman

Gondong dilaporkan sepanjang tahun.

Penularan

Penularan mumps/gondong mirip dengan influenza dan rubella tetapi masih lebih rendah dari campak atau varisela. Gondong dianggap menular dari 2 hari sebelum sampai 5 hari setelah timbulnya parotitis. Penularan juga kemungkinan terjadi dari orang dengan infeksi tanpa gejala dan dari orang dengan gejala prodromal.

Vaksin Mumps/Gondong

Vaksin mumps yang berjenis hidup dan dilemahkan (live attenuated) terbuat dari strain Jeryl Lynn dan mulai dipergunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1967. Lalu pada tahun 1971, vaksin gabungan campak, gondong, dan rubella (MMR) mulai dipasarkan. Pada tahun 2005, vaksin kombinasi campak, gondong, rubella, dan varicella (MMRV) telah dilisensikan.

Vaksin mumps tersedia sebagai vaksin kombinasi campak dan gondong (MR), campak, gondong, dan rubella (MMR), dan vaksin kombinasi campak, gondong, rubella, dan varicella (MMRV). Ketiga vaksin tersebut sama-sama mengandung virus hidup yang dilemahkan. Vaksin mumps tunggal/monovalen saat ini tidak tersedia. Badan Kesehatan Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) di Amerika Serikat merekomendasikan agar vaksin MMR atau MMRV digunakan ketika salah satu dari komponen individu tersebut diindikasikan.

Karakteristik Vaksin

Vaksin MMR bersifat serbuk liofilik yang terdiri dari virus campak yang dilemahkan yang berasal dari strain Edmonston yang dilemahkan dan dikultur dalam sel embrio ayam; virus mumps/gondong yang dilemahkan yang berasal dari strain Jeryl Lynn dan dikultur dalam sel embrio ayam; dan virus rubella yang dilemahkan yang berasal dari galur Wistar RA 27/3 dari yang diperbanyak dalam fibroblas paru diploid manusia WI-38. Vaksin MMRV sama-sama mengandung virus campak, gondong, dan rubella dengan titer yang sama dan identik dengan vaksin MMR. Titer virus varicella zoster Oka lebih tinggi dalam vaksin MMRV daripada vaksin varicella monovalen, dengan kadar masing-masing minimal 9.772 PFU vs. 1.350 PFU. Vaksin MMR dan MMRV keduanya tersedia dalam bentuk bubuk liofilik (beku kering) dan dilarutkan dengan air steril yang bebas bahan pengawet. Kedua vaksin ini mengandung gelatin. Vaksin MMR dan MMRV diinjeksikan secara subkutan. Setiap dosis vaksin MMR dan MMRV mengandung neomisin sebagai antibiotic. Kedua vaksin ini tidak mengandung ajuvan atau pengawet.

Jadwal dan Cara Penggunaan Vaksinasi

Vaksin MMR atau vaksin MMRV dapat digunakan untuk pencegahan penyakit campak, gondong, dan rubella. Vaksin MMR diindikasikan untuk orang berusia 12 bulan atau lebih sementara vaksin MMRV untuk usia 12 bulan hingga 12 tahun; Vaksin MMRV tidak boleh diberikan kepada orang yang berusia 13 tahun ke atas.

Vaksin MMR diberikan sebanyak dua dosis dengan interval minimal 4 minggu (28 hari) antar-dosis. Dosis 1 vaksin MMR harus diberikan pada usia 12 sampai 15 bulan. Pemberian dua dosis direkomendasikan berdasarkan pengamatan sebelumnya terhadap kegagalan beberapa orang untuk membangkitkan respon imun terhadap campak setelah dosis 1. Dosis 2 secara rutin diberikan pada usia 4 sampai 6 tahun, sebelum anak memasuki taman kanak-kanak atau kelas satu. Semua siswa yang masuk sekolah harus menerima 2 dosis vaksin MMR (dengan dosis pertama diberikan pada usia 12 bulan atau lebih) sebelum pendaftaran. Dosis 2 vaksin MMR dapat diberikan segera setelah 4 minggu setelah dosis 1.

Interval minimal antar dosis vaksin MMRV adalah 3 bulan, meskipun bila dosis 2 diberikan 4 minggu setelah dosis 1 masih dianggap valid. Untuk usia 12-47 bulan, baik vaksin MMR dan varisela monivalen (VAR) yang terpisah maupun vaksin kombinasi MMRV dapat digunakan. Namun, risiko kejang demam sekitar dua kali lebih tinggi untuk anak-anak yang menerima vaksin MMRV dibandingkan vaksin MMR dan VAR yang terpisah sehingga bagi para tenaga medis yang berencana memberikan vaksin MMRV kepada pasien anak untuk mendapatkan informed consent terlebih dahulu dengan orang tua pasien.

Kecuali jika orang tua lebih memilih MMRV, untuk kelompok usia 12-47 bulan sebaiknya menggunakan vaksin MMR dan vaksin VAR yang. Sebaliknya untuk dosis kedua vaksin campak, gondong, rubella, dan varicella pada usia berapa pun dan untuk dosis pertama pada usia 48 bulan atau lebih, penggunaan MMRV umumnya lebih disukai daripada injeksi terpisah dari vaksin komponen yang setara (vaksin MMR dan vaksin VAR).

Vaksinasi pada Orang Dewasa

Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan menengah ke atas lainnya adalah area berisiko tinggi untuk penularan campak, gondong, dan rubella karena konsentrasi orang yang besar. Persyaratan vaksinasi sebelum masuk kuliah terbukti secara signifikan mengurangi risiko wabah tiga penyakit di atas pada kampus-kampus di mana persyaratan tersebut diterapkan. Semua siswa yang memasuki perguruan tinggi, universitas, sekolah teknik dan kejuruan, dan institusi lain untuk pendidikan pasca-sekolah menengah sebaiknya sudah menerima 2 dosis vaksin MMR lengkap atau memiliki bukti imunitas terhadap campak, gondong, dan rubella sebelum masuk. Begitu pula untuk petugas kesehatan dan laboratorium sebaiknya juga sudah menerima 2 dosis vaksin MMR.

Vaksinasi ulang

Vaksin yang mengandung virus campak, gondong, atau rubella yang diberikan sebelum usia 12 bulan (misalnya untuk perjalanan internasional) tidak boleh dihitung sebagai bagian dari rangkaian 2 dosis. Anak-anak yang divaksinasi sebelum usia 12 bulan harus mengulang kembali vaksinasi dari awal dengan 2 dosis vaksin MMR atau MMRV dengan jarak yang tepat, dosis pertama diberikan saat anak berusia 12 hingga 15 bulan dan dosis kedua setidaknya 4 minggu kemudian.

Paien HIV/AIDS yang mungkin telah menerima vaksin MMR tepat sebelum memulai terapi antiretroviral kombinasi (cART) harus mengulang kembali vaksinasi MMR nya dari awal dengan. Vaksinasi dikerjakan setelah terapi cART sudah dimulai selama minimal 6 bulan dan tidak ada bukti imunosupresi berat.

Vaksinasi selama Wabah Gondong

Selama wabah, dosis booster vaksin MMR direkomendasikan untuk kelompok yang berisiko tinggi untuk tertular gondong untuk meningkatkan perlindungan terhadap penyakit gondong dan komplikasi terkait. Ini termasuk orang yang tidak memiliki catatan vaksin yang membuktikan bahwa mereka menerima dua dosis vaksin MMR di masa lalu dan orang yang memiliki bukti imunitas. Tidak ada dosis tambahan yang direkomendasikan untuk orang yang sudah menerima tiga dosis atau lebih sebelum wabah.

Imunogenisitas dan Kemanjuran Vaksin

Penelitian menunjukkan bahwa efektivitas vaksin gondong atau vaksin MMR satu dosis adalah 78% sementara dua dosis adalah 88%.

Kontraindikasi dan Peringatan Vaksinasi

Seperti vaksin lainnya, riwayat reaksi alergi yang parah (anafilaksis) terhadap salah satu komponen vaksin atau setelah menerima dosis sebelumnya merupakan kontraindikasi untuk dosis selanjutnya. Penyakit akut sedang atau berat (dengan atau tanpa demam) pada pasien dianggap sebagai peringatan, meskipun orang dengan penyakit ringan dapat divaksinasi.

Vaksin MMR dan MMRV keduanya mengandung neomisin dan gelatin dalam jumlah kecil. Orang dengan sindrom alfa-gal atau alergi daging mungkin ingin berkonsultasi dengan dokter mereka sebelum menerima vaksin yang mengandung gelatin.

Kondisi imunokompromis berat (misalnya tumor dan kegananasan, pasien kemoterapi, imunodefisiensi kongenital, terapi imunosupresif jangka panjang atau pasien dengan infeksi HIV yang sangat rentan) merupakan kontraindikasi untuk vaksinasi MMR dan MMRV. Jika tingkat imunokompetensi seseorang tidak pasti, keputusan untuk memvaksinasi harus dibuat oleh penyedia layanan kesehatan yang meresepkan obat imunosupresif untuk pasien. Pasien yang belum menerima kemoterapi selama minimal 3 bulan, yang penyakitnya masih dalam remisi, dan daya tahan tubuhnya sudah pulih, dapat menerima vaksin MMR atau MMRV. Kontak dekat pasien imunokompomais berat juga sebaiknya ikut divaksinasi.

Orang yang menerima terapi kortikosteroid dosis tinggi (misalnya prednisone dengan dosis 2 mg per kg berat badan atau lebih per hari atau 20 mg atau lebih per hari) selama 14 hari atau lebih tidak boleh menerima vaksin MMR atau MMRV karena kekhawatiran tentang keamanan vaksin. Vaksin MMR atau MMRV tidak boleh diberikan selama minimal 1 bulan setelah penghentian terapi kortikosteroid. Meskipun orang yang menerima kortikosteroid sistemik dosis tinggi selama kurang dari 14 hari umumnya dapat menerima vaksin MMR atau MMRV segera setelah penghentian pengobatan, beberapa ahli lebih suka menunggu hingga 2 minggu setelah menyelesaikan terapi.

Data yang tersedia menunjukkan bahwa vaksinasi dengan MMR tidak dikaitkan dengan reaksi berat pada orang yang terinfeksi HIV yang tidak mengalami imunosupresi berat, meskipun respons antibodi bervariasi. Vaksin MMR direkomendasikan untuk orang yang rentan terinfeksi HIV berusia 12 bulan atau lebih tanpa bukti imunosupresi berat saat ini (persentase CD4 ≥15% selama 6 bulan untuk orang usia 5 tahun ke bawah muda; dan persentase CD4 ≥15% dan jumlah CD4 ≥200 sel/mm3 selama 6 bulan atau lebih untuk orang usia di atas 5 tahun). Vaksin MMR tidak dianjurkan untuk orang yang terinfeksi HIV dengan bukti imunosupresi berat. Sebaliknya, vaksin MMRV tidak disetujui dan tidak boleh diberikan kepada orang yang diketahui terinfeksi HIV.

Riwayat keluarga dengan imunodefisiensi kongenital atau turun-temurun pada kerabat tingkat pertama (misalnya orang tua dan saudara kandung) merupakan kontraindikasi untuk vaksin MMR atau MMRV kecuali daya tahan tubuh penerima vaksin potensial telah dibuktikan secara klinis atau diverifikasi oleh pemeriksaan laboratorium.

Adanya riwayat purpura trombositopenik atau trombositopenia merupakan peringatan terhadap vaksin MMR dan MMRV. Orang tersebut mungkin berisiko tinggi mengalami trombositopenia yang signifikan secara klinis setelah vaksinasi MMR atau MMRV.

Konsumsi aspirin juga dianggap peringatan untuk vaksin MMRV karena komponen varicella. Disarankan penerima vaksin menghindari penggunaan salisilat selama 6 minggu setelah menerima vaksin MMRV karena hubungan antara penggunaan aspirin dan sindrom Reye setelah cacar air.

Riwayat kejang pribadi atau keluarga (seperti saudara kandung atau orang tua) oleh karena penyebab apapun juga merupakan peringatan untuk vaksin MMRV tetapi tidak untuk MMR. Anak-anak dengan riwayat kejang pribadi atau keluarga idealnya harus divaksinasi dengan vaksin MMR dan VAR yang terpisah karena risiko penggunaan vaksin MMRV pada kelompok anak ini umumnya lebih besar daripada manfaatnya.

Vaksin MMR dapat diberikan kepada orang yang alergi telur tanpa dilakukan tes kulit sebelumnya atau penggunaan protokol khusus.

Pertimbangan Spasi

Efek pemberian produk darah yang mengandung antibodi (misalnya imunoglobulin, darah lengkap atau sel darah merah, atau imunoglobulin intravena) pada respons terhadap vaksin MMR atau MMRV tidak diketahui. Karena dikhawatirkan ada potensi antibodi yang ditransfer tersebut bisa menghambat respon imun vaksin, sebaiknya vaksin MMR dan MMRV (atau vaksin VAR) tidak boleh diberikan selama 3 hingga 11 bulan setelah transfusi dengan produk darah yang mengandung antibodi. Begitu pula sebaliknya, produk darah yang mengandung antibodi juga sebaiknya tidak diberikan selama 2 minggu setelah vaksinasi kecuali manfaatnya melebihi manfaat vaksin.

Uji kulit tuberkulin (TST) atau uji interferon-gamma release assay (IGRA) merupakan peringatan untuk pemberian vaksin MMR dan MMRV. Dikhawatirkan vaksin dapat menekan respons terhadap tes kulit tuberkulin. TST dan vaksin yang mengandung campak dapat diberikan pada kunjungan yang sama jika diperlukan. Pemberian TST dan vaksin yang mengandung campak secara bersamaan tidak mengganggu pembacaan hasil TST pada 48 hingga 72 jam kemudian. Jika vaksin yang mengandung campak telah diberikan baru-baru ini, skrining TST harus ditunda setidaknya 4 minggu setelah vaksinasi.

Penerimaan obat antivirus tertentu (misalnya asiklovir, famciclovir, atau valacyclovir) 24 jam sebelum vaksinasi merupakan peringatan untuk vaksin MMRV karena komponen varicella. Obat ini harus dihindari selama 14 hari setelah vaksinasi.

Vaksinasi pada Kehamilan

Kehamilan merupakan kontraindikasi pemberian vaksin MMR atau MMRV. Kehamilan harus dihindari selama 4 minggu setelah vaksin MMR atau MMRV. Kontak dekat dengan wanita hamil bukan merupakan kontraindikasi untuk vaksinasi MMR atau MMRV.

Jika seorang wanita hamil secara tidak sengaja menerima vaksin MMR atau MMRV, tidak perlu melakukan terminasi kehamilan tapi tetap dilakukan monitoring ketat pada bumil sampai persalinan.

Keamanan Vaksin

Penelitian telah menunjukkan vaksin MMR dan MMRV aman dan dapat ditoleransi dengan baik. Sebagian besar efek samping yang dilaporkan setelah vaksinasi MMR (seperti demam dan ruam) disebabkan oleh komponen campak. Setelah vaksinasi MMR, 5-15% orang yang rentan mengalami suhu 103°F (39,4°C) atau lebih tinggi, biasanya terjadi 7-12 hari setelah vaksinasi dan umumnya berlangsung selama 1-2 hari. Kebanyakan orang yang demam tidak memiliki gejala lain. Vaksin MMR dikaitkan dengan risiko kejang demam yang sangat kecil; kira-kira satu kasus untuk setiap 3.000-4.000 dosis vaksin MMR yang diberikan. Kejang demam biasanya terjadi 6-14 hari setelah vaksinasi tapi tidak sampai meninggalkan gejala sisa. Anak-anak dengan riwayat kejang demam atau epilepsi bik pribadi maupun pada keluarga mungkin berisiko lebih tinggi untuk kejang demam setelah vaksinasi MMR.

Vaksin MMR dapat menyebabkan ruam sementara pada sekitar 5% penerima vaksin, biasanya muncul 7-10 hari setelah vaksinasi, tapi umumnya bersifat ringan dan dapat mereda dengan sendirinya.

Reaksi alergi setelah pemberian vaksin MMR jarang terjadi. Sebagian besar bersifat ringan seperti gatal-gatal di tempat suntikan. Reaksi anafilaksis langsung terhadap vaksin MMR terjadi pada 1,8-14,4 kasus per juta dosis.

Artralgia dan gejala sendi lainnya dilaporkan pada 25% wanita dewasa setelah vaksinasi MMR dan berhubungan dengan komponen rubella. Limfadenopati terkadang terjadi setelah menerima MMR atau vaksin lain yang mengandung rubella, dan parotitis jarang dilaporkan (kurang dari 1%) setelah menerima MMR atau vaksin lain yang mengandung gondong.

Jarang, vaksin MMR dapat menyebabkan trombositopenia dalam waktu dua bulan setelah vaksinasi. Perjalanan klinis biasanya bersifat sementara dan tidak berbahaya dan perdarahan jarang terjadi. Berdasarkan laporan kasus, risiko trombositopenia pasca vaksinasi MMR mungkin lebih tinggi pada orang yang sebelumnya memiliki riwayat purpura trombositopenik.

Ensefalitis telah didokumentasikan setelah vaksinasi campak pada orang dengan defisiensi imun. Waktu dari vaksinasi hingga terjadi ensefalitis adalah 4-9 bulan, sama seperti ensefalitis akibat setelah infeksi virus campak tipe liar.

Dalam penelitian vaksin MMRV yang dilakukan pada anak usia 12 hingga 23 bulan, demam yamg muncul 5-12 hari setelah vaksinasi ditemukan pada 21,5% penerima vaksin MMRV dibandingkan dengan 14,9% % penerima vaksin MMR dan vaksin VAR. Dua studi yang berbeda juga menunjukkan pada 2.300-2.600 anak usia 12-23 bulan terjadi 1 kasus kejang demam setelah 5-12 hari pasca-dosis pertama vaksin MMRV, dibandingkan dengan anak yang telah menerima dosis pertama vaksin MMR dan vaksin VAR yang diberikan secara terpisah. Tapi ketika diberikan dosis kedua MMRV pada anak usia 4-6 tahun tidak ditemukan perbedan signifikan antara kedua kelompok.

Berbagai penelitian, serta National Academy of Medicine Vaccine Safety Review, menyangkal hubungan kausal antara autisme dan vaksin MMR atau antara penyakit radang usus dan vaksin MMR.

dr. Kristo

Lulus sebagai dokter spesialis penyakit dalam, muncul hasrat dalam diri dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD, MBA dalam mendalami bidang vaksinasi. Semangat ini mendorongnya dalam membangun klinik vaksinasi pertama di Indonesia, inHarmony Clinic pada tahun 2011. Bersama inHarmony Clinic, kini ia mengimplementasi 3 layanan tambahan: Medical Check Up, Genetic Testing, dan Nutrition Support. Memimpin transformasi inHARMONY menjadi klinik preventif pertama di Indonesia dengan semangat dan integritas yang tinggi