Rabu, 29 Mei 2024 By dr.Octo Irianto

Vaksin perjalanan ke luar negeri banyak dicari oleh para calon mahasiswa yang akan berkuliah di luar negeri. Vaksinasi adalah upaya untuk merangsang sistem kekebalan tubuh seseorang dengan cara memasukkan kuman yang sudan dimatikan/dilemahkan ke dalam tubuh kita agar sistem imun kita dapat membentuk antibodi terhadap kuman tersebut. Vaksinasi telah terbukti sangat efektif dalam mengurangi insiden penyakit dan dalam beberapa kasus, mengeradikasi penyakit seperti cacar, polio, dan campak. Vaksin umumnya diberikan melalui suntikan, namun beberapa bisa diberikan secara oral atau melalui hidung. Jadwal dan dosisnya tergantung pada jenis vaksin dan populasi yang menjadi target.

Secara garis besar, vaksin bisa dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

  1. Vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccine). Misal vaksin MMR, Varicella, OPV (polio oral), BCG dll
  2. Vaksin mati yang dinon-aktifkan (inactivated vaccine). Misal vaksin influenza, HPV (kanker serviks), Hepatitis A dan B, DPT/Tdap, meningokokal/meningitis dll

Vaksinasi untuk keperluan sekolah dan perjalanan luar negeri (traveller’s vaccine)

Vaksinasi yang diberikan sebelum bepergian ke luar negeri bertujuan untuk melindungi pelancong dari penyakit yang endemik di negara tujuan dan mencegah penyebaran penyakit ketika kembali ke negara asal. Begitu pula bagi individu yang hendak meneruskan pendidikan di luar negeri, vaksinasi bertujuan untuk melindungi siswa dan komunitas sekolah dari penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin. Sekolah seringkali menjadi tempat berkumpulnya banyak orang sehingga vaksinasi membantu mencegah wabah penyakit.

Vaksin yang umumnya termasuk dalam kategori perjalanan luar negeri traveller’s vaccine

  1. MMR (Mumps, Measles, Rubella): untuk penyakit gondongan, campak dan rubella (campak Jerman). Biasanya diberikan dalam dua dosis.
  2. DTaP/Tdap (Difteri, Tetanus, Pertusis): terbagi dalam beberapa dosis yang diberikan sejak bayi hingga remaja.
  3. Polio (IPV): Sama seperti vaksin DPT, vaksin polio umumnya sudah mulai diberikan sejak bayi.
  4. Hepatitis B: Biasanya diberikan dalam tiga dosis.
  5. Varisela (Cacar Air): Biasanya dua dosis.
  6. Human Papillomavirus (HPV): untuk mencegah kanker serviks atau penyakit lainnya yang disebabkan oleh virus HPV (human papillomavirus). Direkomendasikan untuk remaja.
  7. Meningokokus (Meningitis): Sering diberikan kepada jemaah haji/umrah.

Vaksin lainnya  yang juga sering direkomendasikan

  1. Hepatitis A
  2. Demam Tifoid
  3. Kolera
  4. Yellow fever (demam kuning): wajib untuk beberapa negara di Afrika dan Amerika Selatan.
  5. Japanese Encephalitis: disarankan untuk beberapa bagian Asia.
  6. Rabies: untuk pelancong yang berisiko tinggi.
  7. COVID-19: Banyak negara memerlukan bukti vaksinasi COVID-19 atau hasil tes negatif.

Profilaksis non-vaksin yang sering direkomendasikan

1.      Malaria: biasanya berupa obat oral/minum. Direkomendasikan untuk daerah yang endemis malaria seperti di Afrika dan Amerika Selatan.

Dokumentasi vaksinasi

Beberapa negara memerlukan Sertifikat Vaksinasi Internasional (ICV = International Certificate of Vaccination), juga sering disebut sebagai buku kuning, yang mencatat vaksinasi tertentu seperti yellow fever. Di Indonesia ada tiga vaksinasi yang wajib membutuhkan buku kuning, antara lain yellow fever, polio, dan meningokokal (meningitis).

Pemeriksaan Tuberkulosis (TB Testing)

Pemeriksaan TB sangat penting untuk mengidentifikasi dan mengobati tuberkulosis, infeksi bakteri menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Deteksi dan pengobatan dini sangat penting untuk mencegah penyebaran TB dan menghindari komplikasi kesehatan serius. Pemeriksaan TB sebelum bepergian ke luar negeri bertujuan untuk memastikan pelancong tidak membawa atau menyebarkan TB.

Jenis pemeriksaan TB

  1. Tes Kulit Tuberkulin (TST)
    • Juga dikenal sebagai tes Mantoux.
    • Dilakukan untuk mendeteksi TB laten.
    • Metode pelaksanaan: sejumlah kecil tuberkulin purified protein derivative (PPD) disuntikkan ke dalam kulit. Setelah itu, lokasi suntikan diperiksa kembali setelah 48-72 jam untuk melihat ada/tidaknya reaksi pada kulit (indurasi).
  2. Interferon-Gamma Release Assays (IGRAs)
    • Tes darah (misalnya QuantiFERON-TB Gold, T-SPOT.TB) yang dikerjakan di laboratorium.
    • Mengukur respons imun terhadap bakteri TB dalam darah.
    • Hasil umumnya keluar setelah 24 jam.

3.      Rontgen dada: Jika hasil tes TB positif, pemeriksaan tambahan seperti foto rontgen dada mungkin diperlukan untuk memastikan ada/tidaknya TB aktif.

Hubungan antara vaksin hidup dengan dengan pemeriksaan TB paru

Vaksin hidup dapat mengganggu hasil pemeriksaan TB karena berpotensi menyebabkan hasil positif/negatif palsu pada tes TB.

  1. Pemeriksaan TB dilakukan bersamaan dengan vaksinasi atau sebelum vaksinasi: Jika seseorang memerlukan pemeriksaan TB dan vaksin hidup, disarankan melaksanakan keduanya di hari yang sama ATAU jika tidak memungkinkan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan TB terlebih dahulu sebelum vaksin hidup. Setelah hasil pemeriksaan TB keluar, baru bisa dilanjukan dengan pemberian vaksin hidup.
  2. Pemeriksaan TB setelah vaksinasi: Jika pemeriksaan TB diperlukan setelah pemberian vaksin hidup, disarankan untuk menunggu minimal 28 hari (4 minggu) pasca vaksinasi untuk menghindari potensi gangguan respon imun.

Kesimpulan

Baik vaksinasi maupun pemeriksaan TB sebagai bagian dari vaksin perjalanan luar negeri memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, khususnya bagi mereka yang hendak bepergian ke luar negeri, baik untuk sekolah atau keperluan lainnya. Perhatikan waktu pelaksanaan keduanya supaya tidak terjadi gangguan respon imun yang bisa berpotensi mempengaruhi pembacaan tes TB.

dr.Octo Irianto

Dokter lulusan Universitas Indonesia ini telah mengabdikan dirinya sebagai seorang vaksinator selama lebih dari 7 tahun. Dr. Octo telah dipercaya menjadi pembicara dalam berbagai seminar kesehatan dan vaksinasi serta menjadi fasilitator dalam sekian banyak sesi diskusi online dan offline.