Jumat, 10 Juli 2026 By Raden Dibi

Mpox (dahulu disebut monkeypox atau cacar monyet) masih menjadi perhatian kesehatan global, dan Indonesia turut mencatat kasusnya sejak 2022. Kabar baiknya, kini tersedia vaksin yang terbukti membantu mencegah penularan pada kelompok berisiko. Namun, tidak semua orang perlu atau dianjurkan menerima vaksin ini — pemberiannya bersifat tertarget, bukan vaksinasi massal.

Vaksin mpox (MVA-BN, dikenal juga dengan nama dagang JYNNEOS) direkomendasikan WHO dan CDC untuk kelompok berisiko tinggi terpapar mpox, bukan untuk seluruh populasi.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI telah menyetujui penggunaannya dan mengarahkan vaksinasi pada kelompok berisiko tinggi serta kontak erat kasus terkonfirmasi. Artikel ini merangkum apa itu mpox, siapa yang dianjurkan divaksin, jadwal dosisnya, dan langkah pencegahan lain yang perlu diketahui.

Apa Itu Mpox?

Mpox adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dari famili yang sama dengan virus penyebab cacar (smallpox), meski umumnya menimbulkan gejala yang lebih ringan. Gejalanya meliputi ruam atau lesi kulit, demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan nyeri otot. Penularan terjadi melalui kontak erat dengan kulit, cairan tubuh, lesi penderita, benda yang terkontaminasi, atau droplet pernapasan dalam kontak yang lama.

Menurut catatan Kementerian Kesehatan RI, Indonesia pertama kali melaporkan kasus mpox pada Agustus 2022, dengan total puluhan kasus terkonfirmasi hingga saat ini, dan seluruh pasien yang tercatat telah dinyatakan sembuh.

Siapa yang Direkomendasikan Menerima Vaksin Mpox?

WHO menegaskan bahwa vaksinasi massal untuk seluruh populasi di suatu negara atau wilayah, tanpa mempertimbangkan tingkat risiko individu, saat ini tidak direkomendasikan. Sebagai gantinya, WHO mengarahkan pendekatan tertarget yang memprioritaskan orang-orang yang pernah melakukan kontak erat dengan penderita mpox (termasuk anak-anak), serta orang yang tinggal di wilayah dengan risiko paparan mpox yang tinggi.

CDC merinci kelompok yang dianjurkan menerima vaksin JYNNEOS, di antaranya orang yang memiliki riwayat kontak erat atau pasangan seksual yang terkonfirmasi mpox dalam dua minggu terakhir, orang dengan paparan terkait wilayah atau situasi dengan penularan mpox yang sedang berlangsung, petugas laboratorium dan tim respons darurat yang berisiko terpapar virus orthopoxvirus dalam pekerjaannya, serta pelaku perjalanan ke negara dengan wabah mpox clade I atau wabah baru clade II.

Kemenkes RI menerapkan pendekatan serupa di Indonesia: vaksinasi mpox saat ini direkomendasikan bagi kelompok berisiko tinggi dan orang yang melakukan kontak langsung dengan penderita mpox dalam dua minggu terakhir, bukan untuk masyarakat umum secara luas.

Jenis Vaksin dan Jadwal Dosis

Vaksin yang digunakan adalah MVA-BN (Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic), generasi ketiga vaksin smallpox yang bersifat non-replicating (tidak mengandung virus hidup yang dapat bereplikasi), sehingga profil keamanannya dianggap lebih baik dibanding vaksin smallpox generasi sebelumnya.

CDC mencatat vaksin JYNNEOS diberikan dalam 2 dosis dengan jarak 28 hari (4 minggu). Kemenkes RI menyatakan vaksin ini telah mendapatkan Emergency Use Listing (EUL) dari WHO dan Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM, sehingga penggunaannya di Indonesia telah melalui jalur persetujuan resmi untuk kondisi darurat kesehatan masyarakat.

Pencegahan Lain di Luar Vaksinasi

Selain vaksinasi bagi kelompok berisiko, WHO dan Kemenkes RI menekankan pentingnya langkah pencegahan umum, seperti menghindari kontak fisik erat dengan orang yang menunjukkan gejala ruam atau lesi kulit mencurigakan, menjaga kebersihan tangan, tidak berbagi barang pribadi (pakaian, handuk, alat makan) dengan orang yang bergejala, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala setelah kontak berisiko.

FAQ Seputar Vaksin Mpox

1. Apakah vaksin mpox wajib untuk semua orang?
Tidak. WHO dan Kemenkes RI menegaskan vaksinasi mpox bersifat tertarget untuk kelompok berisiko tinggi dan kontak erat kasus, bukan vaksinasi massal untuk masyarakat umum.

2. Berapa dosis vaksin mpox yang dibutuhkan?
Menurut CDC, vaksin JYNNEOS/MVA-BN diberikan dalam 2 dosis dengan jarak pemberian 28 hari.

3. Apakah vaksin mpox sudah disetujui digunakan di Indonesia?
Sudah. Kemenkes RI menyatakan vaksin mpox telah mendapat Emergency Use Listing dari WHO dan Emergency Use Authorization dari BPOM.

4. Apa saja gejala mpox yang perlu diwaspadai?
Gejala umum meliputi ruam atau lesi kulit, demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan nyeri otot, yang biasanya muncul setelah kontak erat dengan penderita atau lingkungan berisiko.

5. Siapa yang sebaiknya berkonsultasi soal vaksin mpox?
Orang dengan riwayat kontak erat dengan kasus terkonfirmasi, kelompok berisiko tinggi sesuai panduan CDC dan Kemenkes, petugas laboratorium/respons darurat, serta pelaku perjalanan ke wilayah dengan wabah aktif sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan vaksinasi.

Sumber

– WHO – Public advice on mpox vaccination
– WHO – Mpox: Multi-country External Situation Report (cdn.who.int, seri laporan 2026)
– CDC – Vaccine for Monkeypox Prevention in the United States
– CDC – Monkeypox Vaccination
– Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) – Vaksinasi Mpox Direkomendasikan untuk Kelompok Berisiko Tinggi
– Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) – Vaksin Mpox Sudah Disetujui WHO dan BPOM

Pelajari Lebih Lanjut

Ingin tahu lebih lanjut soal vaksinasi dewasa, termasuk vaksin mpox dan vaksin lain yang sesuai kondisi serta riwayat paparan Anda? Kunjungi halaman Vaksinasi inHarmony Clinic untuk informasi layanan vaksinasi dewasa, atau lengkapi dengan Medical Check-Up untuk pemeriksaan kesehatan menyeluruh.

Untuk konsultasi lebih lanjut, tim inHarmony Clinic dapat dihubungi melalui email di info@inharmonyclinic.com, atau temukan klinik terdekat di kota Anda lewat halaman List Clinic inHarmony.

Raden Dibi

Memulai karir sebagai seorang jurnalis, Raden Dibi Irnawan kini menjabat sebagai Digital Marketing Coordinator di inHarmony Clinic. Sarjana humaniora lulusan Universitas Indonesia ini juga telah berpengalaman membuat berbagai ide konten dan artikel kesehatan selama 9 tahun.