Jumat, 24 Juli 2026 By inHARMONY Group

Tes genetik pranikah, khususnya skrining thalasemia, dianjurkan bagi setiap calon pengantin untuk mengetahui apakah salah satu atau keduanya membawa sifat (carrier) kelainan darah genetik. Jika kedua calon pasangan sama-sama pembawa sifat thalasemia, risiko anak mereka lahir dengan thalasemia mayor mencapai 25% di setiap kehamilan. Deteksi dini melalui tes darah sederhana ini memungkinkan pasangan membuat keputusan reproduksi yang lebih terinformasi sebelum menikah.

Bagi calon pengantin di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan kota-kota lain, tes genetik pranikah kini menjadi bagian yang makin umum dari rangkaian pemeriksaan kesehatan pranikah, bukan lagi sekadar tes darah rutin dan skrining penyakit menular.

Apa Itu Tes Genetik Pranikah?

Tes genetik pranikah adalah pemeriksaan darah yang bertujuan mendeteksi apakah seseorang membawa gen kelainan darah bawaan (herediter), yang paling umum adalah thalasemia. Berbeda dari medical check-up pranikah standar yang berfokus pada penyakit menular seperti hepatitis atau HIV, tes ini secara khusus menelusuri risiko genetik yang bisa diturunkan ke anak meski kedua calon pasangan tampak sehat sepenuhnya.

Thalasemia sendiri adalah kelainan darah bawaan akibat tubuh tidak memproduksi rantai protein globin pembentuk hemoglobin secara normal, sehingga sel darah merah mudah rusak. Seseorang yang hanya mewarisi satu gen thalasemia dari salah satu orang tua akan menjadi pembawa sifat (carrier) tanpa gejala berarti — inilah yang membuat kondisi ini sering tidak disadari sampai dilakukan skrining.

Kenapa Skrining Ini Relevan di Indonesia?

Indonesia berada dalam apa yang disebut “sabuk thalasemia” dunia. Menurut Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), prevalensi pembawa sifat thalasemia di Indonesia diperkirakan mencapai 3–10% dari total populasi. Data dari skrining acak Kemenkes di 21 sekolah DKI Jakarta bahkan menemukan lebih dari 5,6% siswa merupakan pembawa sifat thalasemia.

Jumlah kasus thalasemia mayor yang terdiagnosis juga terus meningkat. Yayasan Thalassemia Indonesia mencatat kenaikan dari 4.896 kasus pada 2012 menjadi 10.973 kasus pada pertengahan 2021, dengan lebih dari 7.000 pasien thalasemia mayor yang membutuhkan transfusi darah rutin seumur hidup. Karena beban pengobatan jangka panjangnya besar, thalasemia menjadi salah satu penyakit dengan biaya pembiayaan tertinggi dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Menurut dr. Teny Tjitra Sari, SpAK dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bila dua pembawa sifat thalasemia menikah, setiap kehamilan mereka memiliki risiko 25% melahirkan anak dengan thalasemia mayor. Karena itu, Kemenkes secara eksplisit merekomendasikan agar pasangan calon pengantin melakukan skrining thalasemia sebelum menikah, khususnya pada kelompok risiko tinggi seperti mahasiswa dan remaja.

WHO Regional Office for the Eastern Mediterranean turut merekomendasikan penilaian risiko genetik untuk thalasemia dan sickle cell disease idealnya dilakukan sebelum pernikahan, sebagai langkah pencegahan yang mempertimbangkan konteks sosial-budaya di kawasan dengan prevalensi carrier tinggi, termasuk Asia Tenggara.

Bagaimana Prosedur Tesnya?

Skrining awal thalasemia umumnya cukup sederhana:

1. Pemeriksaan darah lengkap (complete blood count) untuk melihat indikasi awal seperti nilai MCV (mean corpuscular volume) yang rendah, penanda umum pembawa sifat thalasemia.
2. Analisis hemoglobin (elektroforesis Hb) untuk mengonfirmasi jenis dan pola kelainan hemoglobin.
3. Tes DNA/genetik lanjutan bila diperlukan, untuk mendeteksi mutasi genetik spesifik secara lebih presisi — terutama jika hasil awal menunjukkan indikasi carrier.

Hasil tes ini kemudian dapat dikonsultasikan bersama dokter atau konselor genetik untuk memahami implikasinya terhadap rencana pernikahan dan kehamilan.

Bukan Hanya Thalasemia

Selain thalasemia, tes genetik pranikah dan tes genetik wellness yang lebih komprehensif juga bisa mencakup skrining pembawa sifat untuk kondisi genetik resesif lain, informasi risiko kesehatan jangka panjang, hingga — dalam konteks berbeda seperti tes genetik paternitas — konfirmasi hubungan biologis. Cakupan pemeriksaan ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasangan, mulai dari paket dasar hingga paket yang lebih lengkap.

FAQ Seputar Tes Genetik Pranikah

1. Apakah tes genetik pranikah wajib secara hukum di Indonesia?

Saat ini skrining thalasemia pranikah bersifat anjuran dari Kemenkes dan IDAI, bukan kewajiban hukum nasional, meski beberapa daerah dan fasilitas kesehatan mulai mendorongnya sebagai bagian dari pemeriksaan pranikah standar.

2. Kapan waktu terbaik melakukan tes ini?

Idealnya dilakukan jauh sebelum hari pernikahan, sehingga jika hasil menunjukkan kedua calon pasangan sama-sama carrier, mereka punya cukup waktu untuk berkonsultasi dengan dokter atau konselor genetik sebelum mengambil keputusan lanjutan.

3. Jika hasil tes menunjukkan saya carrier thalasemia, apa artinya?

Menjadi carrier (pembawa sifat) umumnya tidak menimbulkan gejala dan tidak mengganggu kesehatan sehari-hari. Risiko baru muncul jika pasangan Anda juga carrier — pada kondisi itu, penting berkonsultasi dengan dokter mengenai opsi yang tersedia.

4. Apa bedanya tes genetik pranikah dengan medical check-up pranikah biasa?

Medical check-up pranikah umumnya mencakup skrining penyakit menular dan kesehatan reproduksi secara umum, sementara tes genetik pranikah secara spesifik menelusuri risiko kelainan darah genetik seperti thalasemia yang bisa diturunkan ke anak.

5. Apakah tes ini hanya relevan untuk pasangan dengan riwayat keluarga thalasemia?

Tidak selalu. Karena pembawa sifat umumnya tanpa gejala, banyak orang tidak menyadari mereka carrier meski tidak ada riwayat keluarga yang terdiagnosis. Inilah alasan IDAI merekomendasikan skrining pada kelompok usia produktif secara lebih luas, bukan hanya yang berisiko tinggi menurut riwayat keluarga.

Sumber

– Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) — [Cegah Thalassemia, Hindari Pernikahan Sesama Pembawa Sifat](https://kemkes.go.id/id/cegah-thalassemia-hindari-pernikahan-sesama-pembawa-sifat)
– WHO Regional Office for the Eastern Mediterranean — rekomendasi penilaian risiko pranikah untuk thalasemia dan sickle cell disease
– Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) — pernyataan dr. Teny Tjitra Sari, SpAK mengenai risiko pewarisan thalasemia
– Yayasan Thalassemia Indonesia — data kasus thalasemia 2012–2021

Pertimbangkan Tes Genetik Sebagai Bagian dari Persiapan Pernikahan

Mengetahui status carrier sejak dini memberi Anda dan pasangan waktu untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi, tanpa tekanan waktu menjelang pernikahan. inHarmony Clinic menyediakan layanan tes genetik, termasuk paket yang relevan untuk persiapan pranikah, sebagai pelengkap program vaksinasi premarital dan medical check-up di berbagai kota di Indonesia.

Ingin berkonsultasi lebih lanjut soal paket tes genetik yang sesuai kebutuhan Anda? Hubungi kami melalui info@inharmonyclinic.com atau cek klinik terdekat di inharmonyclinic.com/list-clinic.

*(Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti konsultasi medis atau konseling genetik profesional.)*

inHARMONY Group