Kenapa Pertusis (Batuk Rejan) Bisa Mematikan?

Pertusis, atau batuk rejan, sering dianggap “hanya batuk biasa” oleh sebagian orang. Padahal, penyakit ini bisa berakibat fatal, terutama pada bayi yang belum menyelesaikan jadwal imunisasi dasarnya. Di Indonesia, kasus pertusis bahkan dilaporkan meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Jawaban singkat: Pertusis bisa mematikan terutama pada bayi di bawah 6 bulan karena menyebabkan batuk hebat yang mengganggu napas (apnea), pneumonia (radang paru), dan pada kasus berat dapat memicu kejang atau kerusakan otak akibat kekurangan oksigen. Menurut CDC, bayi di bawah 2 bulan — yang belum cukup usia untuk mendapat dosis vaksin pertama — menyumbang mayoritas kematian akibat pertusis. Vaksinasi DPT/DTaP pada bayi dan Tdap pada ibu hamil terbukti menjadi cara paling efektif untuk mencegahnya.

Kenapa Pertusis Sangat Berbahaya bagi Bayi?

Menurut WHO, bayi adalah kelompok paling rentan terhadap komplikasi pertusis, khususnya pada periode sebelum mereka menyelesaikan rangkaian vaksinasi DTaP yang dimulai pada usia 2 bulan. Komplikasi berat dan kematian akibat pertusis paling sering terjadi pada kelompok usia ini.

Data CDC (AS) mencatat bahwa di antara bayi berusia di bawah 12 bulan yang terkena pertusis, sekitar sepertiganya memerlukan perawatan di rumah sakit, dengan risiko rawat inap tertinggi pada bayi di bawah 6 bulan. Komplikasi paling umum pada kelompok usia ini adalah apnea (henti napas sementara, terjadi pada sekitar 68% kasus rawat inap) dan pneumonia (sekitar 22%). Pneumonia sekunder akibat infeksi bakteri inilah yang menjadi penyebab utama kematian terkait pertusis. Pada kasus yang lebih berat, kekurangan oksigen akibat batuk hebat juga dapat memicu komplikasi saraf seperti kejang.

Secara global, CDC memperkirakan terdapat sekitar 24,1 juta kasus pertusis dan sekitar 160.700 kematian anak di bawah usia 5 tahun akibat penyakit ini setiap tahunnya di seluruh dunia.

Kasus Pertusis di Indonesia Meningkat

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat lonjakan kasus pertusis hingga 5,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dengan laporan kejadian luar biasa (KLB) di 30 dari 38 provinsi. Data Kementerian Kesehatan RI turut mencatat peningkatan kasus suspek pertusis sekitar 5,4 kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan mayoritas kasus (sekitar 38%) terjadi pada bayi di bawah usia satu tahun. Kasus pertusis pada 2024 dilaporkan tersebar di 132 kabupaten/kota di 26 provinsi Indonesia.

Menurut IDAI, salah satu penyebab utama lonjakan ini adalah rendahnya cakupan imunisasi — banyak bayi tidak mendapatkan imunisasi lengkap, terutama akibat menurunnya kunjungan ke fasilitas kesehatan selama masa pandemi COVID-19.

Bagaimana Cara Mencegah Pertusis?

Menurut WHO, vaksinasi anak adalah cara pencegahan dan pengendalian pertusis yang paling aman dan efektif yang tersedia saat ini. Rangkaian vaksin DTP (difteri-tetanus-pertusis) dosis primer terbukti menurunkan risiko pertusis berat pada bayi. Di Indonesia, vaksin ini diberikan dalam bentuk kombinasi DPT-HB-Hib sesuai jadwal imunisasi rutin Kemenkes RI dan IDAI, umumnya dimulai sejak usia 2 bulan.

WHO juga menekankan bahwa vaksinasi Tdap pada ibu hamil efektif melindungi bayi yang belum cukup usia untuk divaksinasi — antibodi dari ibu akan ditransfer ke janin dan memberi perlindungan pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi, periode paling rentan terhadap pertusis berat.

FAQ Seputar Bahaya Pertusis

Kenapa pertusis lebih berbahaya untuk bayi dibanding orang dewasa?

Karena bayi, terutama di bawah 6 bulan, belum memiliki kekebalan penuh dan sistem pernapasannya masih rentan terhadap komplikasi seperti apnea dan pneumonia yang bisa berakibat fatal.

Apa saja gejala pertusis yang perlu diwaspadai?

Batuk hebat yang berkepanjangan (kadang disebut “batuk seratus hari”), suara “whoop” saat menarik napas setelah batuk, muntah setelah batuk, serta pada bayi bisa muncul episode henti napas tanpa batuk khas.

Apakah ibu hamil perlu vaksin pertusis?

Menurut WHO, ya — vaksinasi Tdap pada ibu hamil membantu melindungi bayi yang belum cukup usia untuk divaksinasi melalui transfer antibodi dari ibu ke janin.

Kenapa kasus pertusis meningkat di Indonesia belakangan ini?

Menurut IDAI, salah satu penyebab utamanya adalah menurunnya cakupan imunisasi rutin, terutama akibat berkurangnya kunjungan ke fasilitas kesehatan selama masa pandemi COVID-19.

Apakah orang dewasa juga perlu booster vaksin pertusis?

Ya, booster Tdap dianjurkan secara berkala bagi orang dewasa, termasuk untuk melindungi bayi di sekitar mereka dari penularan (strategi “cocoon immunity”).

Sumber

Pastikan buah hati dan keluarga Anda terlindungi dari pertusis. Pelajari layanan Vaksin Bayi dan Anak serta Vaksinasi Premarital (termasuk Tdap) di inHarmony Clinic. Hubungi kami di info@inharmonyclinic.com atau temukan klinik terdekat melalui daftar lokasi inHarmony Clinic.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top