Kehamilan adalah masa ketika sistem imun tubuh mengalami banyak perubahan, dan sebagian penyakit infeksi bisa berisiko lebih besar bagi ibu maupun janin dibanding pada kondisi tidak hamil. Karena itu, vaksinasi selama kehamilan menjadi salah satu langkah pencegahan yang direkomendasikan oleh badan kesehatan dunia maupun otoritas kesehatan di Indonesia. Namun, tidak semua vaksin aman diberikan saat hamil, sehingga penting untuk memahami mana yang dianjurkan dan mana yang sebaiknya dihindari.
Foto: Whispyhistory / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Jawaban singkat: Menurut CDC dan WHO, vaksin Tdap (tetanus, difteri, pertusis) dan vaksin influenza inaktif dianjurkan untuk semua ibu hamil karena terbukti aman dan membantu melindungi bayi baru lahir dari penyakit serius. Vaksin hidup (live attenuated), seperti MMR dan vaksin influenza semprot hidung, sebaiknya dihindari selama kehamilan. Keputusan akhir tetap perlu dikonsultasikan dengan dokter kandungan sesuai kondisi kesehatan masing-masing.
Kenapa Vaksinasi Penting Selama Kehamilan?
Selama hamil, perubahan pada sistem kekebalan tubuh membuat ibu lebih rentan terhadap beberapa infeksi, dan beberapa penyakit dapat berdampak lebih berat jika terjadi saat hamil. Selain melindungi ibu, vaksinasi tertentu selama kehamilan juga memberikan perlindungan pasif kepada bayi melalui transfer antibodi lewat plasenta, yang sangat berguna karena bayi baru lahir belum bisa menerima sebagian vaksin hingga usia tertentu. WHO menyebutkan bahwa imunisasi maternal adalah salah satu cara efektif untuk melindungi ibu sekaligus bayi yang belum lahir dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.
Vaksin yang Dianjurkan untuk Ibu Hamil
Berdasarkan rekomendasi CDC, WHO, serta Kemenkes RI bersama IDAI, ada beberapa vaksin yang secara rutin dianjurkan selama kehamilan karena manfaatnya telah terbukti lebih besar dibanding risikonya.
Vaksin Tdap (Tetanus, Difteri, Pertusis)
CDC merekomendasikan ibu hamil mendapatkan vaksin Tdap pada usia kehamilan 27–36 minggu, idealnya di awal periode tersebut, pada setiap kehamilan. Pemberian Tdap di rentang waktu ini terbukti menurunkan risiko pertusis (batuk rejan) pada bayi berusia di bawah 2 bulan hingga 78%, karena antibodi dari ibu ikut melindungi bayi sebelum ia cukup umur untuk mendapatkan imunisasi pertusis sendiri. Di Indonesia, Kemenkes bersama IDAI juga merekomendasikan vaksin Tdap untuk ibu hamil, dan vaksin ini tersedia gratis di puskesmas maupun posyandu.
Vaksin Influenza (Flu)
CDC secara rutin menganjurkan vaksin flu inaktif bagi ibu hamil pada trimester berapa pun. Karena dibuat dari virus yang telah dinonaktifkan, vaksin ini dinilai aman bagi ibu maupun janin, dan berbagai studi konsisten mendukung keamanan serta efektivitasnya selama kehamilan. WHO turut mendukung vaksinasi influenza pada ibu hamil sebagai bagian dari program imunisasi maternal yang telah diberikan secara luas selama puluhan tahun tanpa bukti efek samping serius pada ibu maupun bayi.
Vaksin COVID-19
WHO menyatakan manfaat vaksinasi COVID-19 pada ibu hamil jauh lebih besar dibanding potensi risikonya, sehingga tetap dianjurkan sesuai indikasi medis. Di Indonesia, Kemenkes telah mengeluarkan panduan resmi vaksinasi COVID-19 bagi ibu hamil dengan syarat tertentu, seperti usia kandungan telah memasuki trimester kedua dan kondisi tekanan darah yang stabil. Konsultasikan dengan dokter kandungan untuk menentukan waktu dan jenis vaksin COVID-19 yang paling sesuai.
Vaksin yang Perlu Dihindari Selama Kehamilan
WHO menegaskan bahwa vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated) berpotensi menimbulkan risiko teoretis terhadap janin, sehingga umumnya tidak dianjurkan selama kehamilan. Contohnya adalah vaksin MMR (campak, gondongan, rubella), vaksin varisela (cacar air), dan vaksin influenza hidup dalam bentuk semprot hidung. Jika seorang perempuan membutuhkan vaksin jenis ini, idealnya diberikan sebelum hamil, dengan jeda waktu tertentu sebelum kehamilan terjadi. Sebaliknya, vaksin inaktif, vaksin berbasis toksoid, maupun vaksin subunit protein pada umumnya dinilai aman digunakan selama kehamilan bila memang diperlukan secara medis.
Kapan Waktu Terbaik untuk Vaksinasi?
Idealnya, status imunisasi seorang perempuan sudah dilengkapi sebelum kehamilan terjadi, termasuk vaksin hidup yang tidak bisa diberikan saat hamil. Karena itu, bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, melengkapi imunisasi sejak masa persiapan pernikahan melalui layanan premarital vaccination dapat membantu memastikan status imunitas sudah optimal sebelum program hamil dimulai. Selama kehamilan berlangsung, pemeriksaan menyeluruh lewat medical check-up juga membantu dokter menilai kondisi kesehatan ibu secara umum, termasuk menentukan vaksin mana yang paling sesuai dan kapan waktu pemberiannya.
Amankah Vaksinasi Bagi Ibu Hamil dan Janin?
Berdasarkan tinjauan Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) WHO, tidak ditemukan bukti dampak buruk terhadap kehamilan akibat pemberian vaksin virus inaktif, bakteri, maupun toksoid, sehingga kehamilan bukan alasan untuk menunda vaksinasi yang memang diindikasikan secara medis. Efek samping yang umum dilaporkan pun serupa dengan kelompok dewasa lain, seperti nyeri ringan di area suntikan, demam ringan, atau kelelahan sementara. Setelah bayi lahir, perlindungan terhadap penyakit menular berlanjut melalui jadwal imunisasi bayi dan anak yang lengkap sesuai usia, sehingga perlindungan yang dimulai sejak dalam kandungan dapat terus berkesinambungan.
FAQ Seputar Vaksin Ibu Hamil
Apakah vaksin Tdap wajib diulang setiap kehamilan?
Ya. CDC merekomendasikan vaksin Tdap diberikan pada setiap kehamilan, idealnya di minggu ke-27 hingga ke-36, terlepas dari kapan terakhir kali ibu menerima vaksin Tdap sebelumnya, agar bayi yang baru lahir tetap mendapat perlindungan antibodi yang optimal.
Apakah vaksin influenza aman diberikan di trimester pertama?
CDC menyatakan vaksin flu inaktif dapat diberikan pada trimester berapa pun selama kehamilan, termasuk trimester pertama, karena tidak mengandung virus hidup dan telah digunakan secara luas pada ibu hamil selama puluhan tahun tanpa bukti efek samping serius.
Kenapa ibu hamil tidak boleh menerima vaksin MMR?
Vaksin MMR termasuk vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated), sehingga menurut WHO berpotensi menimbulkan risiko teoretis terhadap janin. Vaksin ini sebaiknya diberikan sebelum hamil, bukan saat kehamilan sedang berlangsung.
Apakah vaksinasi saat hamil juga melindungi bayi setelah lahir?
Ya. Antibodi yang terbentuk pada ibu setelah vaksinasi, khususnya Tdap dan influenza, dapat ditransfer ke janin melalui plasenta sehingga memberi perlindungan sementara kepada bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan, sebelum bayi cukup umur untuk menerima imunisasinya sendiri.
Apa yang harus dilakukan sebelum memutuskan vaksinasi saat hamil?
Konsultasikan riwayat kesehatan dan status imunisasi Anda dengan dokter kandungan atau tenaga medis terpercaya, agar jenis vaksin, waktu pemberian, dan dosis dapat disesuaikan dengan kondisi kehamilan masing-masing.
Sumber
- WHO – Vaccination before and during pregnancy: What you need to know
- WHO GACVS – Pregnancy and lactation: Vaccines
- CDC – Vaccine Safety for Moms-To-Be
- CDC – Tdap Vaccination for Pregnant Women
- CDC – Guidelines for Vaccinating Pregnant Women
Setiap kehamilan memiliki kondisi kesehatan yang berbeda-beda, sehingga jenis dan jadwal vaksin terbaik sebaiknya didiskusikan langsung dengan dokter. Jika Anda ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai vaksinasi selama kehamilan atau persiapan kehamilan, tim inHARMONY Clinic siap membantu — hubungi kami melalui info@inharmonyclinic.com atau kunjungi jaringan klinik inHARMONY terdekat di kota Anda.
